Pilpres 2014

Hasil pilpres 2014 telah diputuskan pada tanggal 22 juli 2014 kemarin.

Riuh gegap gempita msyarakat pendukung calon presiden yang menang dilaksankan di setiap pelosok indonesia.

Bagi pengusung dan pendukung calon presiden yang kalah, nampaknya akan sedang bersedih sejenak karena belum bisa memenangkan calon pemimpinnya.

Ya, yang namanya kompetisi itu ada menang atau kalah.

Berbuat curang atau fair hanya tuhan dan pelakunya yang tahu.

Namun janganlah membuat kita terlampau berlebihan untuk menanggapi danmenyikapi hasil pilpres ini.

Tetap woles dan nyantai aja.

Kehidupan terus berjalan.

Menang kalah calon presiden kita sangatsedikit efeknya terhadap jalan hidup kita.

Jadi tetaplah fokus pada kewajiban dan kerja anda.

Semoga presiden nanti bisa membuat kondisi ekonomi meningkat dan keamanan terjaga .

AAmiin !

JASA LES PRIVAT SMP SURABAYA

JASA LES PRIVAT SMP SURABAYA ADALAH LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR YANG MENAWARKAN JASA LES PRIVAT DAN LES KELAS.

KURSUS PRIVAT SMP SURABAYA BERADA DI:
1. JL KEDUNGTARUKAN BARU 4B NO 15
2. JAYA SEDATI REGENCY BLOK L 1A – 1C

JASA LES PRIVAT SMA SURABAYA DAPAT DI HUBUNGI MELALUI NO HANDPHONE:
1. FLEKSI : 031 833 14 333
2. MENTARI: 08585 24 555 88

JASA LES PRIVAT SMP SURABAYA TELAH BERPENGALAMAN DALAM MENDIDIK SISWA SECARA PRIVAT SELAMA BERTAHUN TAHUN DAN DI JAMIN MEMBERIKAN KUALITAS YANG TERBAIK BAGI SISWA .

JASA LES PRIVAT SMP SURABAYA MEMANG UNTUK ANDA.

MEMANG BENAR BENAR ENAK DAN MENYENANGKAN DI JASA LES PRIVAT SMP SURABAYA

Jasa les privat sma surabaya

JASA LES PRIVAT SMA SURABAYA ADALAH LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR YANG MENAWARKAN JASA LES PRIVAT DAN LES KELAS.

KURSUS PRIVAT SMA SURABAYA BERADA DI:
1. JL KEDUNGTARUKAN BARU 4B NO 15
2. JAYA SEDATI REGENCY BLOK L 1A – 1C

JASA LES PRIVAT SMA SURABAYA DAPAT DI HUBUNGI MELALUI NO HANDPHONE:
1. FLEKSI : 031 833 14 333
2. MENTARI: 08585 24 555 88

JASA LES PRIVAT SMA SURABAYA TELAH BERPENGALAMAN DALAM MENDIDIK SISWA SECARA PRIVAT SELAMA BERTAHUN TAHUN DAN DI JAMIN MEMBERIKAN KUALITAS YANG TERBAIK BAGI SISWA .

JASA LES PRIVAT SMA SURABAYA MEMANG UNTUK ANDA.

MEMANG BENAR BENAR ENAK DAN MENYENANGKAN DI JASA LES PRIVAT SMA SURABAYA

Les privat sma di surabaya

Les privat adalah sebuah jasa pendidikan yang bersifat intensif.

Satu guru mengajar satu siswa.

Guru datang kerumah.

Di sesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Siswa bebas memilih mata pelajaran yang di anggap sulit.

Siswa boleh memilih guru laki-laki atau perempuan. Disarankan yang sejenis.

Siswa boleh ganti guru, apabila ada ketidak cocokan dalam belajr.

Siswa boleh mengatur jadwal sesuai dengan jadwalnya.

Les privat surabaya ini dikelola oleh lembaga bimbingan belajar suprauno.

silahkan hubungi kami di 031 833 14 333

Les privat Versus Les Kelas, lebih baik mana?

MUNGKIN ADA DIANTARA PENGUNJUNG WEB INI YANG BINGUNG TENTANG KEDUA METODE TERSEBUT.

aPA BEDANYA ?

Dan yang man sih yang lebih baik.

Kalau les kelas di lakukan secara berkelompok.

Satu guru mengajar ke bebrapa siswa secara kelompok.

Sedangkan les privat dilakukan secara intensif.

Satu guru mengajar satu siswa.

Kalau di tinjau dari efektivitas guru untuk menghasilkan anak didik dalam jumlah yang banyak maka les kelas adalah juaranya.

Namun apabila di tinjau dari tingkat pemahaman belajar maka les privat lah yang lebih utama.

Sebab denganles privat anak yang sulit belajar. akan mudah berkonsentrasi jika di ajarkan dengan metode belajar les privat.

Untuk pelajaran exact maka metode les privat sangat tepat.

Sedangkan les komunikasi seperti bahasa itu sanagt cocok menggunakan metode klassikal.

 

Meningkatkan prestasi dengan join les privat

Prestasi yang buruk di sekolah, bisa dikatakan sebagia aib yang tidak boleh di ketahui orang.

Prestasi yang buruk membuat kita minder dan tidak percaya diri.

Kalau di biarkan akan membuat hidup kita tidak nyaman.

Hidup menjadi lebih sempit dan tidak bisa bergaul dengan sesama teman secara fair.

Sebelum terlambat maka buruknya prestasi harus di cegah.

Bagaimana caranya?

Silahkan gabung dengan lembaga kami.

Lembaga bimbingan belajar suprauno yang bergerak dalam bidang pendidikan.

Memberikan jasa les privat semua pelajaran, guru datang kerumah , satu guru satu siswa.

Hubungi kami : 031 833 14 333

Tiap Prodi Wajib Terbitkan Jurnal

PALEMBANG – Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mewajibkan seluruh mahasiswa di tiap jenjang menerbitkan makalah di jurnal sebagai syarat kelulusan mendapatkan respons positif.

Dengan syarat tersebut, diyakini lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak kalah bersaing dengan lulusan dari negara lain. Agar bisa diterapkan, setiap universitas harus memiliki jurnal di seluruh program studi (prodi)-nya.

“Solusinya saya pikir sangat sederhana, setiap prodi harus punya jurnal. Kalau sudah begitu tentu tidak akan ada hambatan, jurnal bisa dibuat bahkan dua bulan sekali,” ujar pengamat pendidikan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang Prof Sirozi kemarin.

Jika setiap prodi di tiap universitas sudah mempunyai jurnal, kewajiban menerbitkan jurnal bagi sarjana tak akan menemui hambatan. Untuk itu, Sirozi mengajak semua kalangan tidak mempermasalahkan atau menolak peraturan baru tersebut. Selain realistis, aturan itu dianggap mampu meningkatkan kualitas dan mutu lulusan di Indonesia, termasuk Sumsel.

Dia mengungkapkan, sebelum kebijakan itu dikeluarkan, wacana serupa sudah sering dibahas dalam seminar-seminar pendidikan. Dari hasil seminar-seminar itu disimpulkan, Indonesia harus mewajibkan para mahasiswanya membuat tulisan di jurnal agar layak saing dengan lulusan dari negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, yang sudah lebih dahulu memberlakukannya.

“Kalau ingin bersaing, kita tidak punya pilihan, membuat jurnal sebagai syarat lulus sarjana itu wajib. Memang ini cukup tegas dan keras, tapi ini strategis untuk kemajuan pendidikan kita,” jelasnya.

Sebagai calon sarjana, menurut dia, kewajiban menyertakan jurnal yang dipublikasikan merupakan hal yang wajar. Sebab, jurnal atau makalah merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap mahasiswa strata satu, dua, dan tiga. Bahkan, jika dilihat dari sisi akademis, dia menilai keputusan itu tidak berlebihan. Peraturan itu cukup membantu dalam menerbitkan jurnal dari hasil-hasil riset yang baru.

Bukan hanya memacu mahasiswa, peraturan ini diharapkannya juga dapat mendorong para dosen untuk lebih sering menerbitkan jurnal. Peraturan itu juga diyakininya mampu menekan jumlah plagiat skripsi yang banyak terjadi akhir-akhir ini.

“Dari pengamatan kita bisa lihat, sedikit sekali dosen yang sudah membuat jurnal. Padahal, sudah bertahun-tahun menjadi dosen. Dengan peraturan ini, mereka akan didorong agar lebih terlatih. Jadi memang realistis, walaupun memang cukup mengagetkan,” tukasnya.

Di tempat terpisah, Rektor Universitas PGRI Palembang Syarwani Ahmad mengaku tak bermasalah dengan peraturan baru soal kelulusan sarjana tersebut. Sebab, setiap mahasiswa memang harus mengikuti perkembangan teknologi dan kemajuan pendidikan yang sangat cepat saat ini. Dengan memublikasikan jurnal itu, dampak positif bukan hanya didapat mahasiswa, melainkan juga masyarakat.

Sebab, secara tidak langsung, hasil risetnya bisa menjadi referensi bagi masyarakat luas. Dia berharap mahasiswanya bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang karena masih ada beberapa waktu lagi yang tersisa sebelum peraturan tersebut diberlakukan pada Agustus mendatang.

“Itu akan kita sosialisasikan dan siapkan mekanismenya. Kita tentu mendukung karena peraturan itu dapat meningkatkan kualitas lulusan sarjana,” tukasnya. (komalasari/koran si)(//rfa)

Pendidikan Seks Ala KRR Tidak Efektif

suarasurabaya.net| Pendidikan seks ala Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) terbukti tidak melahirkan generasi yang jauh dari gaya hidup seks bebas.

Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) menyoroti pendidikan seks yang selama ini diberikan kepada remaja lewat KRR. Nurul Izzati Ketua DPD MHTI Jawa Timur mengatakan pendidikan seks ala KRR terlalu vulgar.

Di dalam buku KRR yang dikeluarkan oleh BKKBN misalnya memberikan gambar detil mengenai alat reproduksi dan fungsinya. Alih-alih mengedukasi, hal itu justru membuat remaja semakin penasaran. Apalagi naluri seksual bergejolak pada usia remaja.

“Naluri seksual yang bergejolak, ditambah dengan informasi yang vulgar membuat remaja jadi penasaran ingin mencoba,” jelasnya.

Ditambah lagi, semangat pendidikan seks ala KRR semata-mata hanya untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan penyakit seksual. Akibatnya, remaja justru terdorong untuk melakukan seks bebas sembari ‘melindungi diri’ dari KTD dan penyakit seksual. Faktanya membuktikan bahwa seiring dengan gencarnya KRR, seks bebas justru semakin meningkat.
Perilaku seks bebas sejatinya berasal dari paradigma kebebasan. Bahwa kebebasan adalah hak, begitu pula seks adalah hak yang harus dipenuhi. Karena itu pendidikan seks ala KRR tidak efektif menghentikan laju seks pranikah.

Solusi tuntas melibas seks bebas, menurut Nurul, harus dari segala sisi. Pertama, mencabut arus liberalisasi seks. Kemudian menanamkan ketaqwaan pada setiap individu.

Hanya saja, hal itu tidak cukup jika tidak didukung dengan peran masyarakat yang melakukan kontrol. Peran negara pun tidak kalah pentingnya. Adalah tugas negara untuk menghentikan penyebaran pemikiran kebebasan, menerapkan aturan pergaulan yang jauh dari seks bebas, menutup akses pornografi/pornoaksi di media massa dan fasilitatornya, memberikan edukasi ke masyarakat dengan landasan ketaqwaan serta memberi sanksi tegas bagi pelaku dan fasilitator seks bebas.(git)

Ujian Kompetensi Guru Disoal

SURABAYA-Kebijakan Uji Kompetensi Awal (UKA) bagi guru secara nasional dinilai memberatkan dan terlalu mengada-ada. Pasalnya, pembebanan UKA pada guru tersebut tidak tercantum dalam Undang-Undang tentang Guru dan Dosen. “Ini kan namanya tidak sah, berarti sama halnya melanggar aturan. Makanya, kami menolak kebijakan itu,” tegas Ichwan Sumadi, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jatim merespon kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Sabtu (11/2) petang.

Dikatakannya, alasan penolakan tersebut lebih dikarenakan kebijakan UKA melawan aturan perundang-undangan. Selain itu, akan berdampak pada keresahan guru yang membawa efek pada terganggunya proses belajar mengajar guru kepada siswa.

“Aturannya jelas tidak dalam klausul Undang-Undang (UU) 14/2005 tentang Guru dan Dosen maupun Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74/2008 tentang Guru?” tandas Ichwan saat dicegat dalam pertemuan Penguatan Pelaksanaan Program Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jatim 2012 di Hotel Utami, Juanda Sidoarjo.

Namun, ia juga tidak menampik jika program nasional tersebut telah berjalan dalam proses pembentukkannya. Meski demikian, pihaknya tetap tidak sepakat dan menolak kebijakan UKA pada guru tersebut. “Bukan karena apa, tapi dampaknya akan besar pada aktifitas pembelajaran siswa. Saya yakin, nggak hanya Jawa Timur saja yang menolak, tapi seluruh PGRI se Indonesia menolak,” katanya.

Di tempat yang sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, M. Nuh mengatakan, UKA merupakan sarana paling bisa untuk menjadikan guru di Indonesia lebih berkualitas. Selain itu, dengan UKA, akan bisa diketahui peta kemampuan tenaga pendidik dalam kompetensi di bidangnya.

“Memang cukup berat. Tapi itulah yang harus ditempuh. Setelah tahu peta kekuatannya, baru akan kami lakukan pemebenahan dan peningkatan kompetensinya,” kata Nuh dihadapan guru dan staf pendidik se Jatim.

Ia juga menjelaskan, peningkatan kompetensi tersebut merupakan tanggungjawab moral guru terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Menurutnya, sangat tidak elegan jika tuntutan kesejahteraan tidak sebanding dengan peningkatan kompetensi guru. “Karena kami bukan lembaga sosial,” sindir mantan Rektor ITS ini.

Ia berjanji, semua tuntutan akan dipenuhi, namun tetap seiring dan sejalan dengan tanggungjawab mutu kompetensi masing-masing guru. Sebab, mutu guru menjadi bagian dari pertaruhan mencetak anak didik yang berkualitas dan memiliki karakter moral. “Jangan hanya menuntut, tapi kompetensi juga harus ditingkatkan secara kualitas,” jelas arek Suroboyo ini.

Sekedar mengingatkan, kebijakan UKA di tingkat kabupaten/kota dilangsungkan pada 25 Februari 2012. Sedangkan, pengumuman kelulusan akan dihelat pada 18 Maret 2012.Rangkaian program tersebut, para guru yang lulus tes berhak imengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) selama 10 hari. Namun, dalam PLPG, para guru masih harus menjalani tes akhir sebagai penentu kelayakan guru mendapatkan sertifikat pendidik profesional. “Yang nggak lulus UKA, bisa mengikuti kesempatan mengulang ujian pada tahun depan,” katanya.

Untuk diketahui, UKA mulai diterapkan pada 2012 bagi guru yang berhak ikut sertifikasi. Undangan UKA pun disebar untuk 300 ribu guru di seluruh Indonesia. “Kalau sampai Jumat (10/2), kami baru mendapati total guru yang sudah mendaftar sebanyak 285 ribu,” tutur sumber. Sab

Sumber: Surabayapost.com

Anies: Pendidikan di Indonesia “Urban Oriented”

JAKARTA, KOMPAS.com — Rektor Universitas Paramadina Anies Rasyid Baswedan mengatakan, pendidikan Indonesia urban oriented, mencerabut anak didik dari keterkaitannya dengan alam. Hal itu dikatakannya saat konferensi pers “Science Film Festival”, Kamis (10/11/2011), di Goethe Institute, Jakarta.
Pendidikan kita urban oriented, sekolah mendidik anak-anak untuk menjadi urban.

“Pendidikan kita urban oriented, sekolah mendidik anak-anak untuk menjadi urban. Coba kita sekolahkan anak petani sampai kelas III SMP, pasti mereka lulus sudah tidak bisa bertani lagi,” kata Anies.

Nuansa urban pada pendidikan di Indonesia, menurut dia, bisa dilihat dari konten dan pola didik. Ia mencontohkan, konten di buku teks selalu mengacu pada kehidupan kota. Sementara pola didik juga cenderung menjauhkan anak dari alam tempatnya hidup. Kondisi tersebut turut berdampak pada kurangnya kesadaran anak tentang masalah lingkungan sehingga harus diubah.

Menurut Anies, dibutuhkan konten yang baik dan teknik yang mendekatkan anak dengan alam dan lingkungan sekitarnya tanpa harus terpaku pada konsep sekolah alam.

“Pendidikan kita harus mampu mengembangkan potensi anak, memberi bekal sehingga mereka bisa meraih mimpi-mimpinya, sesuai konteks dan harus bisa dilakukan di mana saja, di kawasan urban maupun di luar itu,” katanya.

Anies mengatakan, untuk mewujudkannya, Indonesia bisa berkaca pada negara lain. “Kita tidak harus re-invent the wheel, menciptakan cara baru. Tengok saja negara-negara lain yang urban, tetapi bisa menanamkan kesadaran lingkungan,” ujarnya.

Pendidikan yang tak melulu berorientasi urban akan membuat anak punya kesadaran lingkungan. Di masa depan, Anies berharap, sikap tidak peduli lingkungan yang dimiliki seseorang akan dicap sebagai sikap terbelakang secara kebudayaan, seperti halnya sikap rasis.